Sabar dan Kreatif
Seorang ayah punya tugas memandikan putra
kesayangannya setiap pagi. Sang anak berusia tiga tahun. Dan ia
tidak suka mandi!
Berbagai cara dicoba untuk membuat sang
anak mandi. Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,...
paksaan dan pukulan. Semuanya gagal. Putranya bukan jadi mau mandi,
tapi jadi membencinya. Ia menangis dan mulai membalas pukulan. Dua
hal yang sudah dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah. Apalagi ia harus
mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu. Rutinitas yang membuat
sang ayah kesal, marah dan hampir putus asa. Tapi ia tidak mau melepaskan
tugas tersebut. Gengsi menghalanginya. ”Masa mandiin anak kecil aja
nggak bisa”, begitu pikirnya.
Sampai suatu pagi, prosesi paksaan mandi
kembali dilakukan, tentu dengan bentakan dan pukulan. Sambil menangis
pilu, sang anak berkata pada ayahnya : ”Ayah galak,... Ayah jahat...”. Kata-kata itu benar-benar menusuk
hatinya.
Selama ini, ia juga kena pukul
anaknya. Tapi sakitnya tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat”
tadi. Seharian ia tidak bisa bekerja dengan baik. Kata-kata anaknya
benar-benar menyentaknya. Tak terasa, matanya berkaca-kaca. Sang
ayah menangis. Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan anak
kesayangannya demikian buruk.
Sejak hari itu, ia tidak lagi memaksa
anaknya mandi. Sang anak memang tidak mandi. Paling ganti baju
saja. Tapi,... tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari.
Sang ayah kembali berpikir bagaimana
membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi pukulan.
Berbagai alternatif muncul. Beberapa dicoba. Gagal total.
Tapi sang ayah tidak menyerah. Ia kembali mencari cara yang lebih baik.
Sampai suatu ketika, suatu kesadaran baru
timbul. Sang ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut
pandang yang keliru. Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada aktivitas yang
disenanginya, kecuali bermain. Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat
anaknya senang mandi, tapi bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk
ketika mandi. Pemikiran ini menggeser fokus dan pendekatannya. Dari
fokus pada anaknya menjadi fokus pada dirinya sendiri.
Kesadaran ini membuat sang ayah merubah
perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan untuk bermain : ”Nak, main
air yuk...”. Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan.
Aktivitas utamanya adalah main. Dari mencuci bola anaknya, membuat
gelembung sabun, main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan
sebagainya. Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan.
Beberapa kali, sang anak memang masih
tidak mau mandi. Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar. Sang
ayah menjadi sangat kreatif dan sabar mencari permainan yang akhirnya membawa
mereka ke kamar mandi, main air dan mandi. Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi
makin cepat. Dan akhirnya, suatu pagi sang anak berkata pada ayahnya:
”Yah, mandi yuk...” Sang ayah pun langsung memeluk dan menggendong anak
tercintanya. Dengan mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk...”
Saudara, mendidik anak membutuhkan kesabaran,
bukan kemarahan. Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan
kesabaran ini. Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar bila anda tidak
kreatif. Kekerasan dalam memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun
selain dendam.
Dalam kasus di atas, diperlukan banyak
waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang ayah dengan anaknya.
Tidak efisien. Tapi memang bukan efisiensi (hemat sumberdaya) yang
menjadi fokus utama dalam mendidik anak. Efektifitas (tujuan tercapai
dengan baik) adalah fokusnya. Jadi, asalkan terjalin cinta tulus antara
orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu, tenaga, pikiran,
dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.
Nah saudara, jangan salah fokus.
Jangan ingin cepat-cepat mendidik anak. Tenang saja. Anda punya
waktu yang berlebih untuk mendidik anak dan terutama mendidik diri anda sendiri
untuk menumbuhkan cinta tulus diantara anda dan buah hati anda.
Selamat bersabar dan kreatif...




0 komentar:
Posting Komentar