Cpx24.com CPM Program Cpx24.com CPM Program

Our Presence

Need for information makes me inspired to create something that could be useful .. We are here to provide iformasi that may be useful.

Traffic, Income, Profit

Go to Blogger affan-personalweb

This is default featured post 3 title

Go to Blogger Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

This is default featured post 4 title

Go to Blogger Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Lifestyle

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

S E O

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Relationship

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Adsense

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Competition

Go to Blogger Go to Blogger affan-personalweb

Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relationship. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2012

TOPI TUHAN


Menyadari betapa pentingnya perbedaan persepsi yang ada diantara kita

Ada sebuah fabel dari Afrika Barat yang menarik....
Alkisah pada suatu hari Tuhan berjalan-jalan di bumi menyamar sebagai seorang gelandangan tua dengan memakai sebuah topi berwarna.  Ia memakai topi yang satu sisinya berwarna merah, sisi lain putih, depannya hijau dan di belakangnya hitam.

Tuhan mendatangi sekelompok orang  disebuah desa yang sedang bekerja dan memutuskan untuk bersenda gurau dengan mereka. Karena pembicaraan sangat menarik, semakin malam semakin banyak orang berdatangan mengerumuni Tuhan dan mendengarkan kisah-kisah menarik dariNYa.
Beberapa hari kemudian orang-orang desa kembali membicarakan orang tua yang mendatangi mereka beberapa hari yang lalu.
“Apakah kau melihat orang tua bertopi putih yang bercerita malam itu?” tanya orang pertama.
“Putih???Bukan, warna topinya merah” orang kedua menjawab.
“Jangan begitu...warna topinya putih” kata orang yang pertama “jelas-jelas putih…”
“Bukan....” sanggah orang yang kedua. “Saya melihatnya sendiri dengan kedua mata saya dan topi itu jelas berwarna merah.”
“Kamu pasti buta!” kata orang yang pertama.
“Enak saja....tidak ada masalah dengan mata saya” ujar orang yang kedua dengan suara yang mulai meninggi “pasti kamu yang sedang mabuk!”
“Kalian berdua memang buta!” tiba-tiba orang yang ketiga ikut berbicara “ Orang tua itu jelas-jelas memakai topi berwarna hijau.”
“Ada apa dengan kalian ini?” ujar orang yang keempat. “Topinya berwarna hitam dan semua orang bisa melhat warna itu. Kalian pasti setengah tertidur ketika Ia bercerita malam itu. Betapa bodohnya kalian.”
Perseteruan antara mereka soal warna topi Tuhan terus terjadi hingga tanpa disadari kelompok orang didesa itu yang sebelumnya hidup dengan berteman dan rukun berubah menjadi permusuhan.
Perseteruan tersebut masih terjadi sampai hari ini, turun temurun kepada anak cucu mereka.  Pembenci putih melawan pembenci merah, pembenci hijau melawan pembenci hitam, merah lawan hijau, hitam lawan merah dan seterusnya – masing-masing bersikukuh dengan apa yang mereka lihat, tidak mau dibantah mengenai warna topi yang dipakai oleh Tuhan.
Sementara itu, Tuhan sampai saat ini masih sering berjalan-jalan di desa tersebut dan sekitarnya, dalam penyamaran, tapi ironis dan sedihnya, sekarang para pembenci gila tersebut terlalu sibuk mempertahankan argumentasi mereka, sehingga tidak memperhatikan lagi.....
Banyak yang dapat kita petik dari cerita tersebut diatas. Tapi yang akan saya tekankan pada tulisan ini adalah masalah persepsi.
Kita masing2 mempunyai persepsi.  Pengetahuan mendalam mengenai persepsi dan realitas yang kita lihat, sangat penting dalam kehidupan kita sehari-sehari. Kesadaran akan persepsi  yang tidak mungkin sama seratus persen pada setiap orang akan dapat mengurangi banyak konflik dalam kehidupan.

Bagaimana kita akan mempunyai pandangan yang sama seratus persen apabila panca indera kita masing-masing berbeda. Apa yang kita lihat, rasa, dengar, cium dan raba pasti berbeda. Realitas apa yang kita lihat dalam otak kita tidak mungkin sama satu sama dengan yang lainnya.

Kebenaran yang kita lihat, rasa,dengar, cium dan raba adalah seratus persen benar-benar unik bagi diri kita masing-masing...ya diri kita sendiri. Mungkin saja ada persamaan pendapat dengan orang lain, tapi jelas realitas yang dilihat, dirasa, didengar, dicium dan diraba oleh orang tersebut tidak mungkin sama seratus persen dengan yang ada diotak kita.

Belief  system kita masing-masing, terbentuk karena pengalaman diri kita masing-masing dalam kehidupan yang telah kita jalani selama ini. Persepsi yang kita dapati dan percayai sebagai kebenaran lah yang membentuk belief system kita. Persepsi terbentuk dari masukan yang kita terima selama ini dari lingkungan kita, orang tua, keluarga, guru, komunitas, media berita, budaya, pemerintah, kepercayaan dan sebagainya.

Kerangka-kerangka persepsi ini terbentuk dari kombinasi pengetahuan dan pendapat yang kita dapat terus menerus, dicampur dengan sifat menghakimi dan arogansi dari masing-masing kita sendiri. Segala sesuatu didunia ini akan dinilai dan dihakimi melalui kerangka-kerangka persepsi ini. Semua informasi yang tidak cocok dengan kerangka-kerangka persepsi  atau belief system kita, kita akan ditolak.
Dan jelas belief system orang lain, walau itu saudara sekandung/isteri/anak sekalipun pasti berbeda.
Kesadaran akan hal ini, menjadikan diri kita lebih mawas diri dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus selalu sadar bahwa perbedaan pendapat atau persepsi pasti akan selalu terjadi. Realitas kita berbeda dengan orang lain. Kita tidak boleh merasa “ego” atau “belief system” kita masing-masing adalah yang paling benar, saat bermasyarakat. Bila persepsi orang tidak sesuai dengan kita, kita tentu tidak bisa memaksakan kebenaran yang ada dalam diri kita terhadap orang lain.

Menghargai pendapat orang lain merupakan langkah yang dapat kita lakukan.
Kita perlu mempunyai open mind dan mau mendengarkan pendapat orang lain.
Selama kita mempunyai open mind, kebenaran dan realitas akan masuk kedalam diri kita dan dapat mengubah pikiran dan tubuh kita. Bila kita tutup pikiran kita terhadap input-input baru, bagaimanapun kuat dan benarnya input itu, ia tidak akan bisa masuk dalam diri kita. Selain itu kita juga harus siap untuk mengakui bahwa mungkin saja belief system yang ada pada kita selama ini salah.
Untuk memecah dan membuang kerangka-kerangka persepsi yang telah terbentuk sekian lama, anda harus secara jelas merasakan masalah dan batasan yang ada pada pendapat dan pengetahuan yang ada pada diri anda sekarang. Juga anda harus  melihat sifat menghakimi dan arogansi yang ada pada anda, dan mengakui keberadaan sifat-sifat itu.
Open mind adalah sebuah sifat yang mengakui berbagai kemungkinan dalam segala hal.
Open mind dimulai dengan mengakui bahwa ada diantara pendapat dan pengetahuan yang kita miliki dan yakini saat ini, bisa saja salah.

SWEET REVENGE


berkuasa atas diri sendiri

Pernah kah anda disakiti padahal anda tak punya salah apa-apa?  Saya pernah.  Dan sakit sekali rasanya.  Waktu itu saya belum kenal dengan cinta tanpa syarat.  Memaafkan belum ada dalam kamus hidup saya.  Mendoakan?  Apa lagi!  Berbuat baik pada yang berbuat buruk pada kita?  Ah, nggak kepikiran sama sekali.  Maka saya punya dua pilihan.  Pasrah atau balas.  Maka pilihan kedua lah yang saya pilih : BALAS.  Dan rasanya enak sekali.  Balas dendam itu melegakan.

Belakangan saya belajar banyak mengenai ini.  Suatu kepedihan – karena apapun atau siapapun – akan menjadi beban bila dipendam.  Seseorang yang disakiti pada hakikatnya diberikan energi negatif.  Maka bila energy negative itu tak dilepaskan, maka ia akan terus ada.  Membebani.  Terus menyakiti.  Merusak.  Bahkan bisa bertambah besar.

Karena itu, sangat penting melepaskan energi kepedihan itu.

Salah satu cara melepas energi kepedihan itu adalah dengan membalas pada orang yang telah melepaskan energy itu pada kita.  Nah, dalam konteks ini, kita punya dua pilihan.

Pertama, membalas sama buruknya.  Pilihan ini bisa melepas energy kepedihan itu.  Tapi resikonya besar juga.  Orang yang terkena energi pembalasan yang buruk ini, bisa membalas lagi pada kita.  Pembalasan yang buruk pula.  Maka dimulai lah sebuah siklus balas dendam tiada akhir yang sangat buruk.  Pada pilihan ini, hinaan dibalas hinaan.  Kecurangan dibalas kecurangan.  Kemarahan dibalas kemaharan.

Kedua, membalas dengan energy baik / manis (sweet revenge).  Pilihan ini membuat kita membangkitkan energy baik yang bisa mengatasi dan mendorong keluar energy kepedihan yang ada di diri kita.  Membalas jenis ini bisa mengakhiri kepedihan.

Anda karyawan berkualitas emas tapi diperlakukan seperti besi oleh bos anda.  Anda terlalu sering dimarahi atas prestasi anda.  Anda dihina melewati batas atas kesalahan anda.  Kreativitas anda disepelekan.  Usul anda dibuang ke tong sampah.  Maka balaslah dengan manis.  Keluar dari pekerjaan anda.  Jadilah lebih berprestasi.  Jadilah lebih kaya.  Jadilah lebih berkuasa.  Dan dengan kekuasaan anda, genggamlah mantan bos anda itu.  Buat lah dia mengkerut di depan anda.  Dan rasakanlah… betapa manisnya pembalasan itu.  Katakan pada banyak orang bahwa prestasi anda yang sekarang adalah juga karena mantan bos anda itu.  Cukuplah sampai segitu.  Jangan diteruskan balas dendamnya.  Karena bila diteruskan, anda mungkin yang akan menyakiti dia dengan energy negative anda.

Anda istri setia yang dikhianati suami anda.  Balas kepedihan itu dengan manis.  Jadilah istri yang diinginkan bahkan digila-gilai oleh suami anda.  Jadilah lebih cantik dan menawan.  Jadilah pribadi yang  kuat.  Hapus air mata kesedihan anda.  Keraskan rahang anda.  Jadilah lebih berkuasa atasnya.  Buat suami anda berlutut di depan anda.  Memohon maaf dari anda.  Menghiba belas kasihan anda.  Dan rasakanlah kenikmatan itu.  Rasakan melenyapnya kepedihan anda yang digantikan perasaan berkuasa yang enak luar biasa.  Anda kuat.  Anda bebas memilih untuk menerima dia kembali atau berpisah darinya.  Pilihannya benar-benar berada di tangan anda.  Lepas dan jauh dari ketakutan atau kekhawatiran akan apapun. Anda benar-benar berkuasa atas diri anda.

Cinta anda ditolak karena anda miskin.  Jangan menangis.  Jangan meratapi diri. Jangan menyalahkan Tuhan atau orang tua anda.  Jangan merasa menjadi orang termiskin di dunia.  Tapi jadilah kaya raya.  Jadilah lebih kaya dari dia yang menolak anda itu.  Buatlah diri anda berada pada posisi yang sama atau lebih kuat darinya.  Buat dia jadi menginginkan anda.  Buat dia menyesal atas penolakan yang telah dia lakukan.  Pada saat itu, anda berkuasa untuk menerima atau menolak dia.  Apakah anda menerima atau menolak dia, lakukan dengan penuh gaya dan kharisma.  Jangan bersikap buruk padanya.  Toh, beban kepedihan anda telah anda lepaskan.  Anda telah terbebas dari segala beban.

Nikmati…

SENYUM - RESEP ANTI MARAH


Semudah membalik telapak tangan

Suatu malam, terus terang saja saya membutuhkan hubungan suami istri.  Tapi, istri saya tertidur.  Padahal, kami sudah janjian siang harinya akan melakukan ibadah yang satu itu.  Saya pun berada di persimpangan jalan.

Saya merasa kesal dan marah.  “Umi kan udah janji, kenapa sekarang malah tidur, eu…euh.” begitu pikiran saya.  Pikiran ini mendorong saya untuk mencoba tidur dalam kemarahan itu.  Tidak bisa.  Mana bisa tidur kalau perasaan sedang kesal dan marah.  Saya pun bertindak lain.  Saya tersenyum dan berpikir: ”Mungkin Umi kecapean, tapi saya coba bangunin deh”.  Saya bangunkan istri saya.  Ketika ia sudah bangun, saya tanya: ”Ngantuk banget ya, Mi?  Mau tidur lagi?”

Istri saya menjawab: ”Ee... iya.”

Spontan saya bilang: ”Ya udah, tidur aja terus” dengan nada marah dan menjauhinya.   Istri saya pun cepat-cepat mendekati.  Rupanya ia sadar apa yang sedang terjadi.  Ia pun memeluk saya dari belakang.  Saya diam aja.

Istri saya bilang: ”Abi,... Umi sekarang udah nggak ngantuk lagi, nih...”

Saya diam aja.  Istri saya pun terus membujuk.  Saya tetap diam.  Terus terang aja, saya menunggu ia minta maaf.  Meski, dalam hati saya tersenyum.  Senyum kecil pun tersungging di bibir saya.  Tapi istri saya tidak lihat.  Lampu kamar dimatikan.  Hanya ada cahaya temaram dari lampu di luar kamar.

Akhirnya istri saya bilang: ”Abi, maafin Umi ya,...”

Dalam hati saya bersyukur: ”Alhamdulillah”.  Saya pun berbalik, telentang menghadapnya.  Saya tersenyum dan saya cium keningnya.  ”Iya, nggak apa-apa, Mi”

Setelah itu, kami pun bisa beribadah dengan tenang dan bahagia.  Dimulai dengan.... eh, bagian ini nggak usah diceritakan, ya.  Bahaya.

Dari kejadian ini, kami banyak mengambil pelajaran.   Terutama tentang keajaiban sebuah senyuman.  Bila saya memutuskan untuk terus marah, maka pasti dampaknya akan negatif.  Mungkin tidak hanya malam itu, tapi juga berlanjut ke esok siangnya.  Dan yang pasti, kebutuhan biologis saya tidak terpenuhi.  Selain itu, saya dan istri saya pun akan menanggung dosa besar.  Wah, rugi banget deh.

Jadi, amarah yang memuncak itu ternyata bisa reda oleh sebuah senyuman di bibir kami masing-masing.

Saya jadi ingat isi sebuah buku.  Judulnya Blink karangan Malcolm Gladwell.  Salah satu bagian buku itu menerangkan tentang hubungan roman muka dengan emosi.  Roman muka, otot muka mana yang ditarik atau dikendurkan akan menentukan emosi tertentu.  Senyum adalah roman muka yang bertentangan dengan emosi marah.  Tersenyum membuat  emosi jadi lucu atau gembira, bukan marah.

Roman muka marah akan membuat anda merasa marah, bahkan tanpa ada alasan apapun untuk marah.  Begitu kata buku tersebut.  Dan hasil itu bukan karangan, melainkan hasil penelitian bertahun-tahun terhadap ribuan orang.

Di lain waktu, anak saya Afzal (usianya 3 tahun, kami memanggilnya Abang) nangis.  Ia ingin beli mainan baru.  Padahal mainannya sudah banyak.  Tangisannya membuat saya kesal.  Saya sudah akan mencubitnya.  Untung saya sadar.  Saya pun tersenyum dan berpikir: ”Ah,... Abang kan masih kecil.  Wajar aja kalau begitu.”  Saya gendong dia menuju sepeda motor kami.  Kami pun berangkat ke pasar membeli mainan.  Dan seperti biasa, Abang bingung milih mainannya.

Waktu nyampe rumah, saya berpikir: ”Gawat juga nih kalau Abang mau beli mainan terus.  Kayaknya dia menggunakan menangis sebagai senjatanya”.  Semenjak saat itu, saya dan istri lebih sering proaktif mengajak Abang main, terutama main bola.

Menurut saya membelikan anak mainan terus menerus tidak baik.  Tapi mencegah hal itu dengan menyakiti sang anak (mencubit, memukul, memarahi, dsb)  jelas lebih tidak baik lagi.  Alhamdulillah, dengan senyum kemarahan dan menyakiti anak-anak kita bisa dicegah.  Senyum pun membuka jalan bagi jalan keluar lain yang mendidik dan hemat biaya.

Suatu ketika (lagi), saya naik KRL Bogor – Jakarta.  Ada pengamen anak-anak dituntun seorang ibu-ibu.  Saya pikir ibu-ibu itu ibunya.  Entah kenapa, tiba-tiba sang ibu menampar sang anak dengan sangat marah, padahal ia lagi nyanyi.  Nyanyiannya pun berganti tangisan yang sangat keras.  Tidak cukup begitu, sang anak diseret menuju gerbong lain.  Para penumpang KRL kaget dan banyak yang teriak: ”Bu, yang bener aja dong.  Masa anaknya ditampar.”

Saya lihat wajah ibunya.  Terlihat sangat bengis.  Amarah benar-benar tergambar di raut wajahnya.  Mata saya sampai berkaca-kaca dan hati saya perih melihat kejadian itu.  ”Ya Allah, koq tega banget sih dia mukul dan nyeret anaknya seperti itu.  Dimana hati nuraninya?”

Saudara, itulah amarah yang tak terkendali.  Ia merusak anda dan orang lain.  Bahkan tidak jarang, amarah merusak dunia ini.  Berbagai perang yang terjadi, semuanya berawal dari kemarahan.

Amarah juga sumber perceraian.  Sebagian besar  pasangan suami istri yang bercerai dimulai dari amarah yang tak terkendali.  Dengan marah, masalah kecil akan jadi besar, dan masalah besar akan jadi bencana.  Kemesraan suami istri di awal pernikahan lenyap entah kemana karena dihilangkan oleh amarah yang menggunung.  Jadi, bila anda tidak ingin bercerai dengan suami / istri anda, jangan marah.  Kendalikan amarah anda.  Banyak-banyak lah tersenyum pada suami / istri anda.  Setelah tersenyum katakan lah : ”Aku sayang kamu”.  Ehm...

KUAT DIHADAPAN ORANG LAIN


Agar Anda Berwibawa

 Hatinya terperi.  Sakit sekali.  Ia merasa telah bekerja keras.  Terbukti dari hasil kerjanya.  Dari sekian sales person di perusahaannya, ia memperoleh penjualan dengan omset tertinggi.  Tapi, ia malah dimarahi atasannya.  Habis-habisan.  Di depan umum pula. Hatinya sakit sekali.  Tak kuasa ia menahan linangan air matanya.  Meleleh.  Menganak sungai.

Padahal kesalahannya kecil saja.  Hanya laporan yang terlambat.  Itu pun karena ia terlalu lelah mengejar konsumen.  Bukan karena ada kegiatan pribadi.  Sakit hatinya makin membesar ketika ia melihat sang atasan justru tenang-tenang saja pada kesalahan yang dilakukan rekan-rekannya.  Ditegur iya.  Tapi dimarahi?  Nggak ada sama sekali.  Eu….h.  Sakit sekali.

Pernah mengalami kejadian seperti itu?  Bila anda tak berprestasi, dimarahi sudah pantas.  Tapi ini berprestasi.  Koq masih dimarahi.  Apa sebab? 

Kekuatan.  Yah… kekuatan anda dihadapan orang lain.  Ini sebabnya.   Apa maksudnya? 

Saudara, ketika anda dimarahi atasan, maka anda berada di posisi yang lemah.  Kekuatan anda jauh dibawah atasan anda.  Bila kekuatan anda sama dengan atasan anda, anda tidak akan dimarahi. Anda ditegur iya.  Ditanya iya.  Tapi dimarahi?  Tidak!

Lho, bukankah atasan itu memang kekuatannya di atas bawahannya?  Belum tentu.  Tergantung kekuatan atasan dan bawahannya.  Ada bawahan yang kekuatannya memang di bawah atasan.  Tapi ada yang kekuatannya sama, atau bahkan melebihi atasannya.   Atasan dan bawahan adalah faktor formal struktural.  Soal kekuatan adalah soal wibawa personal.

Maka prestasi yang tinggi tak menjamin.  Soal marah-memarahi adalah soal kekuatan.  Nah, apa saja faktor yang membangun kekuatan itu? Faktor yang membuat anda berwibawa di hadapan orang lain, bahkan di depan atasan anda sendiri?

Saya mencatat ada dua faktor.  Pertama, faktor fundamental.  Kedua, faktor teknik komunikasi.  

Faktor fundamental berkaitan dengan kemandirian keyakinan, pikiran dan perasaan.  Ini fondasinya.  Keyakinan yang kuat membuat anda tak bergeming.  Anda kukuh memegang keyakinan itu.  Meski lingkungan bisa beda secara diametral dengan keyakinan anda itu.  Pikiran anda bisa tetap terbuka atas banyak hal, termasuk hal-hal negatif.  Perasaan anda bisa tetap tenang, meski banyak hal yang beda dengan keinginan dan harapan anda. 

Faktor teknik komunikasi adalah ujung tombak kekuatan anda itu.  Dalam hal ini, anda:

1.   Bisa berpendapat beda dengan orang lain.
Nah, hal ini yang paling menunjukkan kekuatan anda.  Anda bisa melihat sisi lain dari suatu kondisi.  Dengannya anda bisa beda pendapat.   Bila pendapat anda sama terus dengan orang lain, maka keberadaan anda menjadi tak berarti penting. 
Karena itu, jangan terus diam, setuju, dan mengiyakan pendapat orang lain.  Orang lain akan senang diiyakan.   Itu sih jelas.  Karena itu berarti anda sedang menyerahkan kekuatan anda padanya.  Ia makin kuat, anda makin lemah.  Makin sering ini (mengiyakan pendapat orang lain) dilakukan, makin lemah anda di depan orang lain.  Makin sering anda beda pendapat, makin kuat anda.
Tapi jangan kebablasan.  Jangan selalu beda pendapat.  Bila anda selalu beda pendapat dengan orang lain, anda memang jadi kuat.  Tapi, anda akan dianggap sebagai musuh, bukan rekan kerja.  Musuh yang kuat.  Dan orang lain akan berusaha menghancurkan anda.  Toh anda musuh mereka.  Iya,kan?  Ini pun kondisi yang buruk.  Konflik berkepanjangan berasal dari sini.   Mulanya dari perbedaan pendapat yang objektif.  Lama-lama akan mengarah pada orangnya.  Subjektif.

2.    Bisa merespon pendapat orang lain dengan baik.
Merespon bukan berarti menyetujui.  Anda bertanya: “Bisa diulangi?”, “Maksudnya?”, “Koq begitu?”, dan sebagainya.  Anda berkomentar singkat seperti : “Oh, gitu ya”, “OK, saya paham”, “Ya..ya..ya”, dan sebagainya.
Nah, ketika anda merespon dengan baik, orang lain merasa diperhatikan.  Merasa dihargai.  Merasa dianggap penting.  Karena merasa diperhatikan, dihargai dan dianggap penting, orang lain pun akan melakukan hal sama pada anda.  Dan itu adalah pertukaran kekuatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

3.   Bisa menguatkan pendapat orang lain.
Ada saatnya anda berbeda pendapat.  Ada saatnya anda menyetujui bahkan menguatkan pendapat orang lain.  Keseimbangan ini penting.   Orang yang pendapatnya anda setujui dan kuatkan akan membagi kekuatannya pada anda.  Persetujuan anda akan sangat berarti karena anda bukan orang yang gampang setuju atas pendapat orang lain.  Ingat, kalau anda gampang setuju atau bahkan selalu setuju atas pendapat orang lain, anda justru akan jadi orang lemah di hadapan orang lain. Tahu kapan tidak setuju dan berbeda pendapat.  Tahu juga kapan saat yang tepat untuk setuju dan menguatkan pendapat orang lain.

 Ciri Anda Kuat Dihadapan Orang Lain
Ada dua ciri utama kalau anda sudah kuat dihadapan orang lain.  Apa itu? 

Pertama, anda ditanya.  Dimintai pendapat.  Ditanya atasan, rekan atau bawahan.  Ini menunjukkan orang lain menganggap anda sebagai orang penting.  Dan ini sekali lagi tak berkaitan dengan apakah anda atasan atau bawahan.

Kedua, ketika anda berpendapat, orang lain benar-benar menyimak.  Entah pendapat anda itu berbeda atau sama dengan pendapat orang lain.

KETIDAK SEMPURNAAN DALAM KESEMPURNAAN SUATU HUBUNGAN


Membangun Kepercayaan Baru dalam Hubungan

“Seiring dengan berjalannya waktu… Masalah pun berlalu dengan sendirinya”

Pernah dengar kalimat itu?
Apakah memang benar?
Apa Anda percaya dengan kalimat tersebut???

Ehmm… secara pribadi saya kok tidak mempercayainya ya.
Maksud saya ya memang ada beberapa masalah yang tidak bisa diselesaikan saat itu juga dan membutuhkan waktu (sedikit) lebih lama untuk penyelesaiannya daripada masalah yang lain.

Tetapi kan jelas-jelas bukan berarti kita hanya perlu duduk ongkang-ongkang kaki dan membiarkan alam semesta ini yang membereskan semua.

Masalah harus dihadapi dan diselesaikan.
Dimana tentunya pertama-tama kita harus memilki keberanian terlebih dahulu untuk mau berhadapan langsung dengan masalah yang ada.

Ini adalah hukum yang berlaku di manapun juga.
Kita tidak akan pernah mendapatkan apapun kecuali kita berusaha untuk mendapatkannya.

Bagaimana kita dapat mengharapkan memiliki hidup yang damai dan tentram jika kita terus-menerus menumpukkan masalah di dalam ‘lemari’ kehidupan kita.
Cepat atau lambat, ‘lemari’ tersebut akan meledak karena kepenuhan toh?
Berapa banyak menurut Anda, ‘lemari’ tersebut mampu menampung masalah-masalah kita??

Saya berharap Anda tidak berpikir bahwa ‘lemari’ kita itu seperti kantong Doraemon yang dengan huebattnya mampu untuk menampung apa saja dan sampai kapan saja tanpa batas sepanjang hidup.
Ehmm… Kalau iya, berarti saya akan stop disini dan berdoa yang terbaik untuk Anda.

Tetapi kalau tidak dan Anda mulai berpikir bahwa ‘lemari’ Anda sudah hampir meledak, memuntahkan masalah-masalah yang tak tersentuh selama ini, maka mungkin sudah saatnya Anda menghadapi kenyataan yang sebenarnya.
Kenyataan bahwa Anda butuh untuk segera membersihkan ‘lemari’ Anda.

Saya percaya, kecenderungan untuk mendiamkan dan menumpuk masalah dalam ‘lemari’ Anda itulah yang seringkali menjadi kericuhan dalam sebuah hubungan. Entah itu hubungan pertemanan, hubungan keluarga atau hubungan dengan kekasih.

Individu dalam sebuah hubungan memiliki kecenderungan untuk membiarkan masalah berlalu dengan sendirinya.
Saya bahkan harus mengakui bahwa terkadang saya pun memiliki kecenderungan tersebut.

Perbedaannya mungkin terletak pada tingkat kecenderungan yang dimiliki.
Beberapa memiliki tingkat kecenderungan yang lebih rendah dan banyak berusaha untuk secepatnya menghadapi masalah-masalah yang tertunda.
Beberapa yang lain mungkin berada pada kondisi penyangkalan terus-menerus dan merasa tidak ada yang perlu untuk dihadapi.

Sejujurnya saya tidak bisa menyalahkan mereka yang berada dalam penyangkalan tersebut.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan betapa orang lain melengkapi kita.
Dari semenjak lahir, kita selalu diajarkan bahwa kita tidak sempurna dan selalu membutuhkan orang lain untuk hidup.
Memang di satu sisi hal tersebut tentunya benar.
Kita memang membutuhkan orang lain karena kita adalah makhluk sosial dan membutuhkan orang lain dalam proses belajar kita sepanjang hidup.

Namun sayangnya ajaran yang dibombardir setiap saat ini dapat pula menimbulkan 2 jenis individu.

Yang pertama adalah individu yang menjadi takut sekali untuk kehilangan seseorang (atau setiap orang) dalam hidupnya karena nantinya akan membuat ia menjadi tidak sempurna. Mereka berusaha setiap detik, setiap saat, untuk menyenangkan orang lain untuk dapat merasa sempurna meskipun mungkin hal yang dilakukan menyakiti diri sendiri. Mereka takut untuk menghadapi masalah yang ada karena mereka yakin dengan menghadapi masalah tersebut justru akan membuat hubungan yang terjalin menjadi hancur berantakan.
“Betul kan … Saya memang bodoh. Biarkan sajalah. Tidak perlu untuk membahasnya. Nanti suatu saat juga mereda sendiri masalah ini”

Atau mungkin yang kedua yang terus menyangkal membutuhkan orang lain karena ketakutannya akan ketidaksempurnaan. Mereka berusaha mati-matian untuk membuktikan betapa sempurnanya mereka sehingga tanpa orang lain pun mereka dapat hidup. Mereka selalu berhasil menggali sisi buruk dari orang lain dan selalu juara juga dalam menyalahkan orang lain ketika ada masalah yang terjadi. Setiap ada masalah, itu pasti karena orang lain dan bukan karena mereka.
“duh… dia bodoh sekali sih… dia keras kepala sekali sih… dia ini… dia itu…. Saya tidak peduli lagi! Saya bahagia untuk dapat hidup dalam dunia saya sendiri. Saya tidak butuh orang lain karena saya terlalu sempurna untuk mereka. Dunia tidak akan pernah dapat mengerti saya”

Jika kita dapat menelaah lebih lanjut, kedua bentuk reaksi tersebut sebenarnya mengarah pada emosi yang sama bukan, yaitu ketakutan.

Ini memang tampak seperti situasi yang menyedihkan sekali.
Namun BUKAN sesuatu yang tidak bisa untuk dirubah.
Seperti takdir yang ditulis di atas batu.
Kita dapat merubah kondisi tersebut jika kita memang berniat keras untuk merubahnya.
Bahkan batu pun sebenarnya dapat dipecah menjadi serpihan-serpihan kecil.

Kita dapat mulai melakukan perubahan dengan cara mulai belajar merasakan cinta dan bukan ketakutan.

Selama ini, kita sudah banyak (kenyang malah mungkin) merasakan ketakutan.
Apakah Anda tidak berpikir sudah saatnya untuk berhenti?
Apakah Anda sudah bosan dengan keadaan tersebut?

Jika iya, bagaimana jika mulai membuka lembaran hidup baru?
Mulai belajar merasakan bagaimana rasanya cinta.
Bagaimana rasanya belajar mengikhlaskan dan mencintai diri sendiri dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada.

Yup! Dengan bangga saya menyatakan bahwa kita memang tidak sempurna.
Saya tidak ingin menjadi sempurna.
Saya bukanlah manusia jika saya sempurna.
Saya selalu menyatakan bahwa saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan yang mungkin ada dalam diri saya.
Saya bahkan banyak belajar dari ketidaksempurnaan saya.
Saya belajar untuk berusaha, berjuang untuk merubah kondisi jika memang dapat saya rubah. Dan belajar untuk mengikhlaskan, mencintai kondisi yang memang tidak bisa saya rubah lagi.

Saya mencintai setiap aspek ketidaksempurnaan yang saya miliki sama seperti saya mencintai setiap jengkal kesempurnaan saya.
Kenapa?
Karena keduanya malah membuat saya merasa sempurna.

Kita semua tahu bahwa koin memiliki dua sisi.
Kita menerima kenyataan tersebut.

Jadi mengapa kita tidak juga menerima kenyataan bahwa kita pun memiliki dua sisi yang saling melengkapi dalam hidup ini?

Lagipula, ayolah…. Beritahu saya bagaimana caranya kita dapat membenahi masalah-masalah yang ada diluar diri kita, jika kita belum juga mampu membenahi masalah yang ada didalam diri kita sendiri.

Pemikiran yang cukup menyentak bukan?

Oleh karenanya, saya sekarang mendorong Anda untuk mulai belajar menghadapi masalah yang ada.
Saya undang Anda untuk mulai mencintai diri Anda dan berhadapan langsung dengan ‘setan-setan’ Anda.
Mulai dari hal-hal kecil dalam diri Anda, perlahan demi perlahan, lalu mulai mencoba untuk menghadapi yang ada di luar Anda.

Mari bersama-sama kita coba untuk membangun ajaran dan kepercayaan baru dalam hidup ini…
“Saya sempurna dengan segala ketidaksempurnaan saya dan saya mencintai keseluruhan paket diri saya”.

KENAPA KITA SULIT BERUBAH DALAM RELATIONSHIP?


Mengenali Pola dalam Interaksi dengan Pasangan

Secara alamiah, manusia mempunyai kecenderungan untuk mengikuti pola hidup yang sama tanpa ia sadari. Bayangkan saja ketika Anda pindah ke rumah baru, kemungkinan besar Anda akan meletakkan barang-barang diposisi yang sama dengan di rumah lama. Ini membuktikan betapa sulitnya mengubah kebiasaan atau pola hidup yang sudah kita lakukan bertahun-tahun.

Hal yang sama terjadi dalam suatu relationship atau hubungan berpasangan. Suatu pola mulai terbentuk pada tahap perkencanan atau pernikahan. Tanpa disadari kita cenderung melakukan hal yang sama berulang-ulang dan akan sulit sekali untuk meninggalkannya. Yang menarik dalam relationship adalah kita tidak hanya berhubungan dengan pasangan kita saja, tetapi juga dengan orang tua, tante, kakak, adik, sepupu, dan banyak lagi. Kebiasaan yang kita ciptakan akan mempengaruhi bagaimana penerimaan mereka.

Seperti mendirikan bangunan, setiap kebiasaan yang kita ciptakan seperti lapisan batu bata yang kita letakkan di atas tembok. Kebiasaan yang terbentuk di kemudian hari akan mengambil pola dari kebiasaan sebelumnya. Apabila kita menyadari sejak awal bahwa suatu kebiasaan akan menimbulkan masalah, sungguh suatu tindakan bijaksana untuk segera mengubahnya sebelum itu membentuk suatu pola yang sulit dihilangkan.

Pola juga bisa timbul karena kebiasaan dalam keluarga dan pengalaman masa lalu kita dalam relationship. Kecenderungan yang timbul adalah kita mewarisi kebiasaan lama ke dalam relationship baru. Disini kita menaruh harapan banyak dari pasangan kita. Harapan yang timbul karena kita merasa menemukan diri kita dipasangan kita sendiri. Suatu studi tentang psikologi relationship mengatakan bahwa kita cenderung mencari pasangan hidup yang memiliki kemiripan kepribadian dengan diri kita karena kita tidak mau berubah terlalu banyak.

Padahal sebetulnya relationship itu adalah proses, bukan tujuan, yang membuat kita seharusnya lebih matang dan mengerti tentang diri kita sendiri dan pasangan kita. Dalam proses pematangan pastinya akan terjadi banyak benturan dan perubahan.

Lalu bagaimana menyikapinya:
  1. Tidak ada yang benar atau yang salah dalam memecahkan persoalan bersama. Ketika Anda mencoba untuk menang dalam suatu argumen, Anda kehilangan sesuatu yang sangan berharga, yaitu rasa kasih.
  2. Masalah apapun, apabila dikenali sejak awal, akan lebih mudah diselesaikan bersama-sama dengan saling mendengarkan, menghargai dan adanya keinginan untuk berubah.
  3. Relationship bukan sekedar friendship, melainkan partnership. Fokuskan diri Anda ke teamwork dan saling membagi.
  4. Apa yang Anda berikan akan Anda terima. Ini hukum universal kehidupan yang berlaku juga untuk relationship. Kalau Anda ingin dicintai, Anda harus memberikan cinta. Semakin banyak yang Anda berikan semakin banyak pula yang Anda terima.
  5. Menyadari bahwa relationship adalah media yang paling sempurna untuk mengenali diri Anda sendiri melalui pasangan Anda. Jadi berhentilah mengomel dan mengeluh. Sebaliknya mulailah mengambil tanggung jawab dan lebih mencintai.

CURHAT KEPADA TUHAN, BISAKAH?


Berdekatan tanpa jarak dengan Tuhan

Masalah terus berdatangan.  Bukan hanya masalah yang menyangkut pribadi kita, tapi juga masalah-masalah yang menyangkut orang-orang yang kita pedulikan, yang kita cintai.  Maka kita pun berhadapan dengan masalah yang luar biasa besarnya.  Mampukah kita menghadapinya?  Melakukan solusi dari masalah-masalah tersebut?  Tulisan-tulisan saya yang lalu membahas ini (Masalah, I Love You – Seberapa Besar Masalah Menekan Anda – Seberapa Cerdas Anda Menghadapi Masalah?).  Benang merahnya terletak pada terus meningkatkan kualitas diri dalam menghadapi masalah.

Tulisan kali ini tentang hubungan masalah yang kita hadapi dengan Yang Maha Kuasa.  Curhat adalah aktivitas kita dalam menceritakan masalah yang kita hadapi.  Dengan curhat kita paling berharap didengarkan.  Untung bila kita menemukan solusi yang tepat.

Curhat pada Yang Maha Kuasa berarti kita ingin didengarkan oleh-Nya.  Kita ingin dibukakan jalan oleh-Nya.  Bisakah?

Jawabannya SANGAT BISA.  Tuhan kan Maha Mendengar.  Hanya kita yang sering kali tak mau bicara pada-Nya.  Tuhan Maha Pemberi Solusi, hanya kita yang terlalu sombong tuk bertanya pada-Nya.  Tuhan Maha Baik.  Kita aja yang suka berprasangka buruk pada-Nya.

Bagaimana caranya?
Pada prinsipnya, semua cara komunikasi yang kita kuasai, bisa dilakukan.  Anda bisa teriak atau berbisik.  Anda bisa tertawa atau menangis. Anda bisa berkata-kata atau bernyanyi.  Anda bisa gunakan bahasa daerah, nasional atau internasional. Bisa lewat kata atau rasa.  Silakan saja.  Yang penting, ketika curhat itu anda bisa merasakan kehadiran-Nya.

Tekniknya?
Berikut beberapa teknik yang bisa digunakan :

1.   Doa Panjang
Anda berdoa yang panjang sekali.  Isi doanya bukan hanya permintaan.  Tapi justru lebih banyak penyebutan nikmat-nikmat yang telah Tuhan berikan untuk anda.  ”Engkau telah memberiku ........ Karenanya aku menjadi .........Ya Tuhanku, terima kasih.”

2.   Senyum Tuhan
Teknik ini sangat sederhana.  Anda tersenyum dan senyum itu anda tujukan untuk Tuhan.  Lokasi terbaik adalah di tempat yang lapang.  Atau anda bisa melihat langit yang biru atau hitam.  Sambil menutup mata pun bisa.  Yang penting senyum itu untuk Tuhan.  Anda akan merasakan kehadiran Tuhan.

3.   Tarikan Nafas Tuhan
Bayangkan anda di akhir hidup anda.  Anda masih bisa bernafas untuk yang terakhir kalinya.  Maka nafas itu akan sangat berharga, kan?  Teknik ini dilakukan dengan bernafas yang seakan-akan anda bernafas dengan menarik udara yang terkandung energi Tuhan di dalamnya.   Bayangkan nafas itu ditarik oleh jantung, dikeluarkan dari pusat.

4.   Lagu Kesayangan.
Pilihlah sebuah lagu kesayangan yang anda bernyanyi untuk atau bersama Tuhan.  Pilih yang liriknya menunjang kecintaan ada pada Tuhan.

Nah, anda pun didengarkan Tuhan.  Siapkan diri.  Jadilah sensitif untuk tanda-tanda atau solusi yang Tuhan berikan.

Lalu, curhatlah pada Tuhan ketika anda senang dan susah.  Bertemanlah dengan-Nya.  Dia memang senang mendengarkan semua cerita anda.  Baik cerita itu menyenangkan anda, atau menyedihkan.  Baik berisi kesuksesan atau kegagalan anda.  Bagi Tuhan, kesuksesan atau kegagalan anda tak ada bedanya.  Lalu, jadilah pendengar yang baik untuk masalah-masalah atau kesuksesan orang lain pada anda.  Ketika teman anda dirundung masalah, dengarkan dia.  Ketika teman dianugerahi berkah, ikutlah bergembira dengannya.  Jangan iri atau dengki.  Mudahkan urusan orang lain, urusan anda akan dimudahkan Tuhan.

BAIK PADA ORANG LAIN


cara anda meraih sukses.

Hatinya remuk.  Ia merasa ia telah melakukan segalanya.  Ia berusaha menjadi bos yang baik.  Maka ia penuhi kebutuhan staf-stafnya.   Para staf butuh meningkatkan kualitas diri.   Maka semua stafnya ia ikutkan sebuah pelatihan pengembangan diri. Pelatihan yang terkenal dan mahal.  Para staf butuh refreshing.  Maka ia ajak semua staf beserta keluarganya berlibur.

Tapi kenapa kinerja mereka tak jua meningkat?  Kenapa selalu banyak kesalahan di kantornya?  Kenapa yang ia ucapkan tak juga dituruti?  Kenapa banyak kelalaian terjadi sampai-sampai kantornya kecurian?  Kenapa ia harus marah-marah dulu untuk membuat semua orang bekerja dengan benar?

Seorang teman mengeluhkan semuanya itu.   Pernahkah hal yang sama terjadi dengan anda?  Anda merasa sudah berusaha maksimal untuk orang lain, tapi ternyata harapan anda tak kunjung terpenuhi.   Kekecewaan pun meruak di segenap penjuru hati.

Apa yang jadi penyebab semua itu?  Saya menemukan jawabannya pada sebuah kisah sederhana.

Seorang pria kaya raya menyiapkan berkantong-kantong emas untuk dibagikan pada yang membutuhkan.  Itu adalah usaha dan bukti bahwa ia senang berbagi dan berbuat baik untuk sesamanya.  Ia pikir, masalah banyak orang akan selesai dengan emas itu.

Maka ia pun keliling kotanya.  Orang-orang menyambutnya dengan gembira.  Orang-orang miskin berterima kasih sekali padanya.  Banyak yang mencium tangannya.   Maka ia pun pulang dengan hati gembira.  Niat baiknya disambut luar biasa.  Harapannya banyak orang miskin yang akan meningkat kehidupannya.  Ia pun terus mengulangi perbuatannya itu.  Setiap kali ia melakukannya, setiap kali pula ia pulang dengan hati yang puas dan gembira.

Sampai suatu ketika, sebuah fakta terpampang di depannya.  Harapan agar tindakannya membuat orang-orang miskin punya kehidupan yang lebih baik, ternyata tak terbukti.  Ia menemukan orang-orang miskin itu tetap miskin.  Emas yang ia berikan memang membuat mereka senang dan terbantu.  Tapi hanya beberapa hari saja, emas itu sudah habis.   Mereka kembali ke kondisi penuh penderitaan.  Sampai ia datang membawa emas lagi.  Dan itulah yang terjadi.  Berulang-ulang.   Ia mengira sudah melakukan yang terbaik agar orang-orang miskin itu berubah hidupnya.  Rupanya ia keliru.

Maka ia rubah perbuatan baiknya.   Emas yang untuk dibagikan ia gunakan untuk membangun pabrik.  Ia latih orang-orang miskin sampai terampil dan bisa bekerja dengan baik di pabrik.  Pendapatan mereka meningkat.  Bahkan mereka jadi senang belajar sendiri.  Sang orang kaya pun senang.  Niat baiknya berhasil.  Maka mulailah berdiri pabrik-pabrik dengan tujuan mulia yang sama.

Saudara, menjadi baik di mata orang lain harus lah benar-benar sesuai dengan sudut pandang orang lain.  Jangan terjebak dengan sudut pandang kita sendiri.  Jangan memberi emas pada orang yang butuh cangkul.  Jangan memberi cangkul pada orang yang butuh buku.  Jangan memberi buku pada orang yang butuh makan.

Maka ketika kita mau baik di mata orang lain:

    *  Jadilah setia pada yang tidak ada.

Sangat mudah menyerang dan membicarakan keburukan orang yang tidak ada.  Mereka tidak bisa membela diri.  Karena itu, siapapun yang tak setia pada yang tidak ada, sesungguhnya mereka adalah orang lemah yang tak punya kekuatan apa-apa.  Saudara, jangan pernah membicarakan keburukan siapapun.  Teman-teman anda akan berpikir: “Dia membicarakan si Fulan yang tidak ada.  Jangan-jangan, dia juga membicarakan keburukanku waktu aku tidak ada”.  Bila sudah begini, orang lain tak akan percaya lagi pada anda. 

    * Tanyakan : “Apa yang bisa saya bantu?”

Sangat mungkin orang lain butuh bantuan.  Tapi mereka sungkan memintanya.  Maka pertanyaan emas ini benar-benar menunjukkan kesediaan anda untuk membantu orang lain.  Dan, karena anda bisa membantu, maka anda sedang menambah tabungan kebaikan pada sesama.   Bertanya seperti ini saja sudah menunjukkan kualitas anda.   Apalagi bila anda benar-benar membantu dengan kualitas yang terbaik.

    * Sensitif pada kebutuhan orang lain.

Mulailah dari hal-hal yang kecil.  Mengambil minum bagi teman yang sedang makan.  Membawakan barang bawaan teman yang terlalu berat dan banyak.  Menyampaikan pesan.  Memberi tumpangan pulang.  Meng-SMS teman dan menanyakan kabar.

Lalu meningkat ke hal-hal yang lebih besar.  Menawarkan pinjaman uang pada teman yang kesusahan.  Menyiapkan waktu bagi teman yang butuh curhat.  Menengok teman yang sakit. Membantu persiapan pernikahan teman.  Dan sebagainya.

Sabtu, 14 April 2012

"AYAH GALAK... AYAH JAHAT... "

Sabar dan Kreatif

Seorang ayah punya tugas memandikan putra kesayangannya setiap pagi.  Sang anak berusia tiga tahun.  Dan ia tidak suka mandi! 

Berbagai cara dicoba untuk membuat sang anak mandi.  Dari cara terhalus berbentuk bujukan sampai cara kasar,... paksaan dan pukulan.  Semuanya gagal.  Putranya bukan jadi mau mandi, tapi jadi membencinya.  Ia menangis dan mulai membalas pukulan.  Dua hal yang sudah dianggap nggak apa-apa oleh sang ayah.  Apalagi ia harus mengejar waktu untuk bisa masuk kerja tepat waktu.  Rutinitas yang membuat sang ayah kesal, marah dan hampir putus asa.  Tapi ia tidak mau melepaskan tugas tersebut.  Gengsi menghalanginya.  ”Masa mandiin anak kecil aja nggak bisa”, begitu pikirnya.

Sampai suatu pagi, prosesi paksaan mandi kembali dilakukan, tentu dengan bentakan dan pukulan.  Sambil menangis pilu, sang anak berkata pada ayahnya : ”Ayah galak,... Ayah jahat...”.  Kata-kata itu benar-benar menusuk hatinya. 

Selama ini, ia juga kena pukul anaknya.  Tapi sakitnya tidak sesakit kata-kata ”Ayah galak, ayah jahat” tadi.  Seharian ia tidak bisa bekerja dengan baik.  Kata-kata anaknya benar-benar menyentaknya.  Tak terasa, matanya berkaca-kaca.  Sang ayah menangis.  Ia benar-benar menyesal telah memperlakukan anak kesayangannya demikian buruk. 

Sejak hari itu, ia tidak lagi memaksa anaknya mandi.  Sang anak memang tidak mandi.  Paling ganti baju saja.  Tapi,... tidak ada tangisan dan teriakan setiap hari.

Sang ayah kembali berpikir bagaimana membuat anaknya senang mandi tanpa paksaan, teriakan apalagi pukulan.  Berbagai alternatif muncul.  Beberapa dicoba.  Gagal total.  Tapi sang ayah tidak menyerah.  Ia kembali mencari cara yang lebih baik.

Sampai suatu ketika, suatu kesadaran baru timbul.  Sang ayah sadar, membuat anaknya senang mandi adalah sudut pandang yang keliru.  Bagi anak usia tiga tahun, tidak ada aktivitas yang disenanginya, kecuali bermain.  Jadi pertanyaannya bukan bagaimana membuat anaknya senang mandi, tapi bagaimana bersenang-senang dengan anaknya, termasuk ketika mandi.  Pemikiran ini menggeser fokus dan pendekatannya.  Dari fokus pada anaknya menjadi fokus pada dirinya sendiri. 

Kesadaran ini membuat sang ayah merubah perintah mandi : ”Nak, mandi sana!” menjadi ajakan untuk bermain : ”Nak, main air yuk...”.  Selain itu, mandi justru menjadi aktivitas sampingan.  Aktivitas utamanya adalah main.  Dari mencuci bola anaknya, membuat gelembung sabun, main robot-robotan di air, mengisi air ke botol, dan sebagainya.  Mandi pun menjadi aktivitas yang menyenangkan. 

Beberapa kali, sang anak memang masih tidak mau mandi.  Tapi, hal ini bukan lagi suatu masalah besar.  Sang ayah menjadi sangat kreatif dan sabar mencari permainan yang akhirnya membawa mereka ke kamar mandi, main air dan mandi.  Makin lama, proses main dan mandi ini menjadi makin cepat.  Dan akhirnya, suatu pagi sang anak berkata pada ayahnya: ”Yah, mandi yuk...”  Sang ayah pun langsung memeluk dan menggendong anak tercintanya.  Dengan mata berkaca-kaca, sang ayah berkata: ”Ayuk...”

Saudara, mendidik anak membutuhkan kesabaran, bukan kemarahan.  Kreatifitas menjadi penting dalam proses menumbuhkan kesabaran ini.  Anda tidak akan jadi orang tua yang sabar bila anda tidak kreatif.  Kekerasan dalam memperlakukan anak tidak akan mendidik apapun selain dendam. 

Dalam kasus di atas, diperlukan banyak waktu untuk menjalin cinta dan keakraban antara sang ayah dengan anaknya.  Tidak efisien.  Tapi memang bukan efisiensi (hemat sumberdaya) yang menjadi fokus utama dalam mendidik anak.  Efektifitas (tujuan tercapai dengan baik) adalah fokusnya.  Jadi, asalkan terjalin cinta tulus antara orang tua dengan anaknya, masalah diperlukan banyak waktu, tenaga, pikiran, dana, dan sebagainya tidak lah menjadi masalah.

Nah saudara, jangan salah fokus.  Jangan ingin cepat-cepat mendidik anak.  Tenang saja.  Anda punya waktu yang berlebih untuk mendidik anak dan terutama mendidik diri anda sendiri untuk menumbuhkan cinta tulus diantara anda dan buah hati anda. 

Selamat bersabar dan kreatif...

Kamis, 12 April 2012

1 KEMARAHAN Membutuhkan 10 CINTA

Love is Magic

Seorang anak menangis.  Usianya baru 3.5 tahun.  Ayahnya membentak dengan keras.  Sungguh sakit rasanya.  Padahal ia hanya ingin bermain-main dengan ayahnya.  Sang ayah baru pulang kerja dan sangat lelah.  Melihat anaknya menangis, sang ayah pun menyesal.  Ia peluk anaknya.  Ia katakan: “Maafin Ayah Sayang.”  Sang anak tak bergeming.  Ia benar-benar kecewa pada ayahnya.  Ia bahkan terus menangis sesegukan.  Hal yang membuat hati sang ayah teriris-iris sembilu.  Dan air mata pun mulai menggenang di matanya.

 Kembali ia membujuk anaknya.  “Nak, ayah mohon.  Maafin ayah.  Ayah tak bermaksud menyakitimu.  Ayah sayang banget sama kamu”

 “Aku cuma ingin main sama Ayah.  Apa itu salah?”

 “Tidak Nak, Tidak.  Kamu tidak salah.  Ayah yang salah telah membentakmu.  Maafin ayah ya?”  air mata sang ayah pun mengalir makin deras.

 Sang anak terdiam sejenak.  Tapi tangisnya telah berhenti. 

 Ayahnya berkata lagi: “Yuk, kamu mau main apa sih sama Ayah?”

 “Aku mau main bola, Ayah.  Nih bolanya dah aku siapin”

 “Ayo kalau begitu”  Kata sang Ayah sambil menuntun anaknya ke halaman.  Tapi tiba-tiba ayah berhenti.  Anaknya mengikuti berhenti juga. 

”Kamu udah maafin Ayah kan, Sayang?”  Tanya ayah. 

 Sang anak tersenyum dan mengangguk.  Senyuman dan anggukan yang melegakan hati Ayah.  Ayah pun memeluk.  Sang anak membalas pelukan itu dengan erat.  Dan ketika keduanya melepas pelukan, dua hati telah kembali ke fithrah bahagianya.  Mereka pun bermain bola dengan asyik dan gembira sampai bermandikan keringat.  Ajaib.  Kelelahan sang ayah setelah bekerja seharian justru hilang.  Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan gembira.

 Saudara yang baik, cerita di atas mungkin sering terjadi pada banyak orang.  Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sana, diantaranya:
  1. Kemarahan Kecil Berdampak Besar.
Bentakan sang ayah yang spontan mungkin terwujud dalam satu atau dua kata saja, misalnya : diam!, kenapa?, Nanti dulu! Dan sebagainya.  Tapi karena kata-kata itu terlontar dari kemarahan, maka dampaknya sangat negatif.  Kata-kata itu menusuk hati anaknya sampai membuatnya menangis.  Mungkin karena harapan besar sang anak diluluhlantahkan seketika. 
  1. Diperlukan Banyak Cinta dan Usaha Untuk Meredakan Akibat Buruk Kemarahan.
Agar hubungan ayah – anak ini kembali bahagia, sang ayah harus menguras energi yang besar.  Dari menyesal, minta maaf, membujuk, memeluk, bahkan sampai menangis.  Itulah yang saya maksud dengan judul tulisan ini.  Satu kemarahan membutuhkan 10 kasih sayang.  Dan bisa juga dibalik.  10 kasih sayang bisa hilang oleh 1 kemarahan.  Sama seperti kemarau satu tahun yang tak berbekas lagi karena turun hujan seharian.  Karena ada fakta seperti ini, maka sebaiknya anda membiasakan diri untuk menjadi pribadi yang penuh kasih sayang.  Bagaimana dengan kemarahan anda?  Ya, kemarahan itu tetap ada dalam diri anda.  Sewaktu-waktu bisa muncul.  Tapi, saat waktunya tiba, anda bisa marah dengan cara yang baik.
  1. Sering Terjadi Kontradiksi Antara Suara Hati Dengan Tindakan.
Apakah setiap ayah mengasihi anaknya?  Apakah setiap ayah rela berkorban apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya?  Apakah ayah bekerja keras luar biasa demi kepentingan anaknya? Jawaban ketiga pertanyaan ini adalah : Pasti.  Itulah suara hati setiap ayah.  Tapi, suara hati itu sering juga tertutupi oleh berbagai tabir.  Tabir itu membuat sang suara hati terhalangi dan tidak mewujud menjadi tindakan.  Tabir-tabir itu mungkin bernama kelelahan, kemarahan, egoisme, kesibukan, godaan, ambisi karir, dan sebagainya.  Maka hadirlah tindakan dan perkataan yang justru bertolak belakang dengan suara hati.  Bekerja lembur setiap hari, sampai melewatkan momen-momen bermain dengan anak-anak.  Lupa akan hari ulang tahun istri/suami atau anak-anak karena terlalu sibuk.  Terlalu mengandalkan pengasuh untuk mendidik anak.  Mengekspresikan cinta pada keluarga sebatas banyaknya uang yang diberikan.  Berhati-hatilah…
  1. Betapa Mudahnya Seorang Anak Untuk Memaafkan Dengan Tulus.
Pagi hari, anak anda mungkin berantem dengan temannya.  Tapi siang hari, mereka telah bermain dengan asyik lagi.  Yap.  Anak-anak itu sangat mudah memaafkan dan kembali menikmati hidup bahagianya.  Mereka tidak lama-lama dibayangi oleh dendam yang merusak hidup.  Karenanya sangat lah pantas bila setiap kita belajar pada anak-anak untuk sesegera mungkin memaafkan kesalahan orang lain pada kita.
  1. Cinta Itu Ajaib.
Percayailah cinta, karena cinta selalu yakin pada anda.  Nikmatilah cinta, karena tak ada yang lebih indah darinya.  Jadilah cinta, karena memang itulah sejatinya diri anda.  Dan keajaiban pun akan terus menghampiri anda.


Nah saudara, berhati-hati lah dengan emosi anda.  Anda harus bisa mengendalikan ekspresi emosi itu agar tidak merusak siapapun.  Tidak merusak anda, dan orang-orang yang anda cintai.  Selamat berekspresi.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More