Refleksi dari Peristiwa Gempa
"Barusan katanya ada gempa di Jakarta ya, Liz?!?!”Vitri bertanya pada saya sekitar jam 5 kurang sore ini, 16 Oktober 2009.
Heh? Oh ya… Jujur saya tidak merasakannya.
Saya pun bercanda mengatakan mungkin karena bobot tubuh saya yang cukup berat jadi menancap erat dengan gravitasi bumi.
Lalu saya berjalan ke loker, mengambil tas & mengeluarkan handphone saya.
Hal ritual yang saya selalu lakukan sebelum beranjak mandi membersihkan diri selepas berolahraga hanya untuk mengecek apakah ada missed call atau sms yang masuk sebelumnya.
Ternyata memang ada beberapa sms masuk & isinya memberitakan hal yang sama yang telah diberitakan oleh Vitri kepada saya.
Ada gempa lagi di bumi Indonesia.
Kali ini gempa berkekuatan 6,4SR terjadi sekitar jam stgh 5 sore, di sebelah barat Ujung Kulon, Banten. Dimana getarannya terasa hingga ke Jakarta, Bandung, Bogor dan bahkan Sukabumi.
Beberapa sms yang masuk berisi berita bahwa jalan-jalan protokol di Jakarta menjadi macet total karena kepanikan masyarakat akan gempa yang baru saja terjadi.
Semua berbondong-bondong pulang dan berusaha lari dari bahaya yang dirasa dapat mengancam jiwanya.
Sms lain ada yang berisi kekhawatiran mereka akan rentetan gempa yang tampaknya sedang terus terjadi di negara tercinta ini.
Hampir semua bernada kecemasan, kekhawatiran, ketakutan dan hal-hal serupa lainnya.
Saya pun lalu mulai berpikir, apa iya ya semua rentetan gempa dan beragam kejadian alam ini harus disikapi dengan perasaan-perasaan demikian.
Jujur yang terucap pertama kali dari mulut saya ketika mendengar ada gempa lagi adalah, “Alhamdulillah…”
Aneh mungkin bagi yang mendengar.
Tetapi saya yakin ini semua merupakan bagian dari rencana yang sudah disusun dengan sangat sempurna oleh Tuhan.
Saya yakin pula tidak ada yang tidak berguna dalam setiap hal yang terjadi dan tidak ada satu kejadian pun yang hanya menimbulkan efek kesusahan bagi yang mengalaminya.
Kalau kita bisa menerima, menikmati dan mengucap syukur akan gunung yang indah, akan pantai yang menenangkan, akan segarnya daun dengan setetes embun di ujung daun tersebut di pagi hari, akan aliran sungai yang menghanyutkan, akan deretan pohon hijau, akan danau luas terbentang yang begitu luar biasa, maka kenapa kita tidak bisa menerima, menikmati dan mengucap syukur juga akan letusan gunung api, akan gempa bumi, atau bahkan akan tsunami??
Kalau kita mau dengan rela menerima segala kenikmatan dan kesenangan dari Sang Khalik, kenapa ya susah sekali bagi kita untuk menerima juga segala ‘kesulitan’ dan 'kesedihan' yang sebenarnya merupakan satu paket komplit dari Dia.
Hidup ini kan seperti koin bukan?
Kalau kita bisa menerima satu sisinya, kenapa sisi lain kita lupakan & bahkan emoh untuk dilihat?
Apa sih sebenarnya yang ditakutkan?
Kehilangan?
Keterpisahan?
Kecacatan?
Atau bahkan kematian?
Jika demikian adanya mungkin perlu ditelaah lagi, esensi dasar diri kita.
Buat saya pribadi, (dan ini keyakinan saya yang hanya ingin saya bagi tanpa perlu Anda terima), segala hal yang saya miliki adalah pinjaman.
Barang-barang materi yang saya miliki adalah pinjaman.
Karir yang saya miliki adalah pinjaman.
Keluarga yang saya miliki adalah pinjaman.
Anak yang saya miliki adalah pinjaman.
Bahkan tubuh saya ini juga tentunya hanya pinjaman semata.
Hanya seonggok daging, tulang dan organ tubuh yang dipinjamkan kepada saya sehingga jiwa saya dapat belajar di muka bumi ini.
Kalau tidak ada tubuh ini, bagaimana jiwa saya dapat belajar dan berkembang?
Jiwa saya membutuhkan tubuh, sehingga saya dapat belajar berjalan, makan, minum, berbagi, merasa sakit akan luka, berlari, tertawa, menangis dan beragam hal duniawi lainnya.
Jiwa saya yang ingin belajar ini pun lalu diberikan pinjaman tubuh oleh Dia.
Lalu sejak pertama kali menghirup udara di muka bumi ini hingga saat ini, banyak sekali tambahan-tambahan pinjaman yang sudah diberikan oleh-Nya kepada saya.
Tidak hanya dalam bentuk fisik dan materi, namun juga dalam kehadiran orang-orang lain dalam hidup saya.
Kapan pun Dia merasa waktu pinjaman sudah selesai, ya tentunya pinjaman-pinjaman tersebut pun diambil kembali oleh-Nya.
Esensi dasar saya, hanya jiwa saya.
Hal-hal lain buat saya murni pinjaman, bonus dan sebuah kemewahan yang diberikan oleh-Nya kepada saya untuk dinikmati dalam rentang waktu tertentu.
Jadi kenapa kita harus menakutkan kehilangan sesuatu yang dari awal memang sudah bukan milik kita?
Mungkin akan ada yang mengatakan bahwa saya bicara demikian karena belum pernah benar-benar merasakan akibat dari gempa.
Benar juga sih, mungkin saja demikian.
Saya memang tidak pernah secara langsung mengalami gempa dengan kekuatan hantam yang besar beserta segala akibatnya.
Tetapi, jika saya kembali diingatkan betapa semua ini sebagai bagian dari sebuah rencana yang sudah pasti disusun secara sempurna oleh-Nya, maka rasanya saya pribadi malah semakin dapat melepaskan ketakutan-ketakutan yang ada.
Tidak ada yang positif dan tidak ada yang negatif bagi saya.
Positif dan negatif itu kan hanya label yang kita berikan untuk hal-hal yang terjadi dalam kehidupan kita dan sifatnya subyektif sekali.
Sama seperti label ‘musibah’ yang kita berikan pada kejadian-kejadian alam belakangan ini.
Bagaimana kalau ternyata ini bukan musibah, namun sebuah anugerah terselubung?
Ketika gunung meletus, mengeluarkan lava panasnya dan membuat banyak ‘kesusahan’ bagi lingkungan sekitarnya, pada saat itu mungkin tidak ada yang dapat melihatnya sebagai suatu anugerah.
Semua mengeluh, semua meratap dan semua berpikir betapa Tuhan kejam atau sedang marah kepada umat-Nya.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, anugerah itu pun terwujud dengan suburnya tanah yang dilewati lava akibat mineral lava yang berintegrasi dengan mineral tanah yang dilaluinya ketika itu.
Oleh karena itulah, saya sudah berhenti mengatakan rentetan fenomena alam ini sebagai musibah.
Jika ingin melabel pun, saya hanya menyebutnya sebagai insiden alam yang mungkin memang harus terjadi sehingga sebuah anugerah nantinya dapat dinikmati.
Dan ketika sekarang tinggi benar gunungan komentar, baik secara langsung maupun lewat forward-an sms & email, yang mengatakan bahwa Tuhan sedang marah sekali dengan umat-Nya saat ini, bagi saya justru kebalikannya.
Tuhan dengan cinta kasih-Nya yang tanpa syarat sedang melimpahkan anugerah kepada kita dengan cara-Nya sendiri.
Cara yang mungkin bagi kita saat ini, akibat kertebatasan lingkup pandang kita, masih sulit untuk dilihat letak kenikmatannya.
Tetapi saya yakin pada waktu yang paling tepat nanti (dan semua memang selalu terjadi pada waktunya yang paling tepat), semua anugerah & hikmah akan rentetan insiden alam ini dapat disyukuri serta dinikmati oleh segenap makhluk hidup.
Gempa hari ini?
Alhamdulillah…..
Terima kasih, Tuhan.




0 komentar:
Posting Komentar