Love is Magic
Seorang
anak menangis. Usianya baru 3.5 tahun. Ayahnya membentak dengan
keras. Sungguh sakit rasanya. Padahal ia hanya ingin bermain-main
dengan ayahnya. Sang ayah baru pulang kerja dan sangat lelah.
Melihat anaknya menangis, sang ayah pun menyesal. Ia peluk anaknya.
Ia katakan: “Maafin Ayah Sayang.” Sang anak tak bergeming. Ia
benar-benar kecewa pada ayahnya. Ia bahkan terus menangis
sesegukan. Hal yang membuat hati sang ayah teriris-iris sembilu.
Dan air mata pun mulai menggenang di matanya.
Kembali
ia membujuk anaknya. “Nak, ayah mohon. Maafin ayah. Ayah tak
bermaksud menyakitimu. Ayah sayang banget sama kamu”
“Aku
cuma ingin main sama Ayah. Apa itu salah?”
“Tidak
Nak, Tidak. Kamu tidak salah. Ayah yang salah telah
membentakmu. Maafin ayah ya?” air mata sang ayah pun mengalir makin
deras.
Sang
anak terdiam sejenak. Tapi tangisnya telah berhenti.
Ayahnya
berkata lagi: “Yuk, kamu mau main apa sih sama Ayah?”
“Aku
mau main bola, Ayah. Nih bolanya dah aku siapin”
“Ayo
kalau begitu” Kata sang Ayah sambil menuntun anaknya ke halaman.
Tapi tiba-tiba ayah berhenti. Anaknya mengikuti berhenti juga.
”Kamu udah maafin Ayah kan, Sayang?” Tanya ayah.
”Kamu udah maafin Ayah kan, Sayang?” Tanya ayah.
Sang
anak tersenyum dan mengangguk. Senyuman dan anggukan yang melegakan hati
Ayah. Ayah pun memeluk. Sang anak membalas pelukan itu dengan
erat. Dan ketika keduanya melepas pelukan, dua hati telah kembali ke
fithrah bahagianya. Mereka pun bermain bola dengan asyik dan gembira
sampai bermandikan keringat. Ajaib. Kelelahan sang ayah setelah
bekerja seharian justru hilang. Mereka pun masuk ke dalam rumah dengan
gembira.
Saudara
yang baik, cerita di atas mungkin sering terjadi pada banyak orang. Ada
beberapa hal yang bisa kita pelajari dari sana, diantaranya:
- Kemarahan Kecil Berdampak Besar.
Bentakan sang ayah yang spontan mungkin terwujud dalam satu
atau dua kata saja, misalnya : diam!, kenapa?, Nanti dulu! Dan
sebagainya. Tapi karena kata-kata itu terlontar dari kemarahan, maka
dampaknya sangat negatif. Kata-kata itu menusuk hati anaknya sampai
membuatnya menangis. Mungkin karena harapan besar sang anak
diluluhlantahkan seketika.
- Diperlukan Banyak Cinta dan Usaha Untuk Meredakan Akibat Buruk Kemarahan.
Agar hubungan ayah – anak ini kembali bahagia, sang ayah
harus menguras energi yang besar. Dari menyesal, minta maaf, membujuk,
memeluk, bahkan sampai menangis. Itulah yang saya maksud dengan judul
tulisan ini. Satu kemarahan membutuhkan 10 kasih sayang. Dan bisa
juga dibalik. 10 kasih sayang bisa hilang oleh 1 kemarahan. Sama
seperti kemarau satu tahun yang tak berbekas lagi karena turun hujan
seharian. Karena ada fakta seperti ini, maka sebaiknya anda membiasakan
diri untuk menjadi pribadi yang penuh kasih sayang. Bagaimana dengan
kemarahan anda? Ya, kemarahan itu tetap ada dalam diri anda.
Sewaktu-waktu bisa muncul. Tapi, saat waktunya tiba, anda bisa marah
dengan cara yang baik.
- Sering Terjadi Kontradiksi Antara Suara Hati Dengan Tindakan.
Apakah setiap ayah mengasihi anaknya? Apakah setiap
ayah rela berkorban apa saja demi kebaikan dan kebahagiaan anaknya?
Apakah ayah bekerja keras luar biasa demi kepentingan anaknya? Jawaban ketiga
pertanyaan ini adalah : Pasti. Itulah suara hati setiap ayah. Tapi,
suara hati itu sering juga tertutupi oleh berbagai tabir. Tabir itu
membuat sang suara hati terhalangi dan tidak mewujud menjadi tindakan.
Tabir-tabir itu mungkin bernama kelelahan, kemarahan, egoisme, kesibukan,
godaan, ambisi karir, dan sebagainya. Maka hadirlah tindakan dan perkataan
yang justru bertolak belakang dengan suara hati. Bekerja lembur setiap
hari, sampai melewatkan momen-momen bermain dengan anak-anak. Lupa akan
hari ulang tahun istri/suami atau anak-anak karena terlalu sibuk. Terlalu
mengandalkan pengasuh untuk mendidik anak. Mengekspresikan cinta pada
keluarga sebatas banyaknya uang yang diberikan. Berhati-hatilah…
- Betapa Mudahnya Seorang Anak Untuk Memaafkan Dengan Tulus.
Pagi hari, anak anda mungkin berantem dengan
temannya. Tapi siang hari, mereka telah bermain dengan asyik lagi.
Yap. Anak-anak itu sangat mudah memaafkan dan kembali menikmati hidup
bahagianya. Mereka tidak lama-lama dibayangi oleh dendam yang merusak
hidup. Karenanya sangat lah pantas bila setiap kita belajar pada
anak-anak untuk sesegera mungkin memaafkan kesalahan orang lain pada kita.
- Cinta Itu Ajaib.
Percayailah cinta, karena cinta selalu yakin pada
anda. Nikmatilah cinta, karena tak ada yang lebih indah darinya.
Jadilah cinta, karena memang itulah sejatinya diri anda. Dan keajaiban
pun akan terus menghampiri anda.
Nah
saudara, berhati-hati lah dengan emosi anda. Anda harus bisa
mengendalikan ekspresi emosi itu agar tidak merusak siapapun. Tidak
merusak anda, dan orang-orang yang anda cintai. Selamat berekspresi.




0 komentar:
Posting Komentar